OMAH KAPAL KUDUS : Kenangan Naik Haji Tempo Dulu

OMAH KAPAL KUDUS — Adalah bangunan tua dan langka dengan arsitek yang unik. Omah Kapal adalah bangunan kuno yang dibangun pada zaman pendudukan Belanda diIndonesia terletak di Jalan KHR Asnawi, Kelurahan Damaran Kudus, Jawa Tengah.

Konon rumah ini dibangun oleh pengusaha rokok terbesar di Kudus pada masa itu, namanya M. Nitisemito.

Beliau membangun Omah Kapal untuk mengenang perjalanannya saat menunaikan ibadah haji ke Makkah, dimana waktu itu transportasi satu-satunya yang digunakan dari Indonesia adalah dengan menggunakan kapal laut.

Pada zaman dahul Omah Kapal ini menjadi salah satu landmark kota kudus saat itu. Bahkan hingga tahun 70-an masyarakat Kudus selalu menyebut “Daerah Omah Kapal” untuk merujuk daerah di belakang Menara Kudus serta kelurahan Damaran dan sekitarnya.

Rumah dibangun dalam gaya arsitektur “modernisme” dengan sedikit pengaruh dari gaya “Streamline moderne” yang sangat ngetrend pada tahun 1930an.

Berdasarkan ketetapan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah yang dimasukkan dalam daftar inventarisir pada tahun 2005 lalu, kini diminta oleh pemiliknya untuk dihapus

Alasannya karena BCB tersebut adalah omah kapal dan milik perseorangan serta bukan milik pemkab.

Sebelum dibersihkan bangunan ini terlihat tidak terawat.

Dari pantauan detikcom di lokasi, bangunan Omah Kapal tampak tertutup oleh semak. Di selanya tampak juga besi yang sudah berkarat. Tidak hanya itu, gambar jangkar kapal masih terlihat di dinding bangunan.

“Kami memang mengusulkan untuk menghapus Omah Kapal dari daftar benda cagar budaya. Sejak saya lahir kondisinya sudah seperti itu. Lha kemudian dibentuk menjadi cagar budaya saja juga bingung, karena saya juga tidak diberi tahu,” ujar pemilik atau ahli waris dari Omah Kapal, Muhammad Bismark Muzahid saat ditemui wartawan di rumahnya di Kelurahan Damaran, Kecamatan Kota, Kudus, Rabu (17/6/2020) lalu.

“Sudah pernah keberatan zamannya Pak Mustofa (Bupati Kudus periode 2013-2018). Kemudian bulan Desember 2019 kami ajukan lagi ke Pemkab Kudus. Sudah saya kirim surat tapi tidak ada respons,” ujarnya.

Pengusulan tersebut bukan tampak sebab. Menurutnya, kondisi ikon Omah Kapal itu sudah rusak berat. Terlebih Omah Kapal menurutnya tidak memberikan kontribusi yang banyak bagi Pemkab Kudus dan pihak keluarga.

“Itu (Omah Kapal) sudah rusak. Cagar budaya dari sisinya apa. Memang pernah menjadi ikon sejarah di Kudus, tapi dari sisi bangunan sudah rusak. Tidak ada kontribusi apapun,” ujarnya.

Kondisi Omah Kapal yang terletak di Jalan KHR Asnawi Kelurahan Damaran Kecamatan Kota, Kudus, Rabu (17/6/2020).Kondisi Omah Kapal yang terletak di Jalan KHR Asnawi Kelurahan Damaran Kecamatan Kota, Kudus, Rabu (17/6/2020). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Pengusulan tersebut bukan tampak sebab. Menurutnya, kondisi ikon Omah Kapal itu sudah rusak berat. Terlebih Omah Kapal menurutnya tidak memberikan kontribusi yang banyak bagi Pemkab Kudus dan pihak keluarga.

“Itu (Omah Kapal) sudah rusak. Cagar budaya dari sisinya apa. Memang pernah menjadi ikon sejarah di Kudus, tapi dari sisi bangunan sudah rusak. Tidak ada kontribusi apapun,” ujarnya.

Mamak berencana untuk mengubah bangunan Omah Kapal untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saat ini lokasi yang berdiri Omah Kapal itu dengan tanah yang luasnya 8.500 meter persegi digunakan sebagai area parkir wisata Menara Kudus.

“Nanti pengin buat sesuatu yang bermanfaat. Ya kerja samakan sama relasi. Belum tahu jelasnya, karena situasi saat ini ada pandemi Corona,” jelasnya.

 

bordir-kudus-omah-kapal-kudus

[IMG_0294.jpg]

     

Saat ini lokasi yang berdiri Omah Kapal itu dengan tanah yang luasnya 8.500 meter persegi digunakan sebagai area parkir wisata Menara Kudus.

Menurutnya bangunan Omah Kapal itu berdiri pada tahun 1934. Omah Kapal didirikan kakeknya bernama H. Muzahid.
Menurutnya, Omah Kapal sebagai bentuk kenangan waktu kakeknya dulu berangkat haji naik kapal beberapa bulan.

“Sejarahnya jadi rumah kapal itu menurut info dari ayah saya almarhum. Itu yang buat kakek saya, namanya Haji Muzahid. Kakek karena dulu pada tahun 1934, ceritanya naik haji naik kapal beberapa bulan. Kenangannya itu (Omah Kapal),” ujarnya.

Omah Kapal itu, dahulu sering digunakan menjadi wisata keluarga. Pada saat hari Kamis dan Jumat, kakeknya sering mengajak keluarga untuk berwisata di Omah Kapal tersebut.

“Ceritanya orang lama untuk wisata keluarga kakek saya banyak ambil ponakan untuk menemani. Pas hari Jumat atau Kamis sore, ke sana untuk makan-makan,” ujarnya.

Terpisah, Kasi Sejarah Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Lilik Ngesti mengatakan Omah Kapal sudah terdaftar menjadi cagar budaya.

Terdaftar pada keputusan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah No 988/102/S.P/BP3/P.IX/2005 tentang Penetapan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Kudus.

Terkait usulan penghapusan Omah Kapal dari cagar budaya, Lilik menjelaskan tidak ada istilah penghapusan.

“Penghapusan sebenarnya tidak ada, tapi hilang cagar budaya dengan alasan apa. Karena bencana atau karena kondisi alam itu bisa musnah, dihilangkan tidak ada. Artinya tidak serta-merta, ada proses.

Rumah Kapal sudah melayangkan kepada Bapak Bupati menjadi statusnya cagar budaya. Tidak serta-merta mengambil keputusan sesuai dengan permohonan,” papar Lilik saat ditemui di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus.

Pihaknya pun sudah melakukan tindak lanjut. Yakni berkoordinasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kudus. TACB juga sudah turun, namun hingga kini masih dikaji.

sumber : detik.com dan berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*